Kurang Disupport Pemerintah, Festival Budaya Peringgasela Menenun Sukses Digelar

LOMBOK TIMUR – Festival budaya Pringgasela menenun dengan konsep warna dan irama tenun yang ke tiga kalinya kembali digelar pada Senin, 9/11 kemarin. Dalam festival kali ini,  sebanyak 1.350 penenun dari empat desa sekecamatan Peringgasela ikut ambil bagian untuk menenun kain teradisional khas pringgasela.

Meskipun kurang mendapat support dari pemerintah Kabupaten Lombok Timur maupun Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dari sisi anggaran, namun pelaksanaan  perayaan festival budaya Pringgasela menenun sukses digelar. Dengan keterbatasan dana, panitia pelaksana sukses mengahdirkan sebanyak 1350 penenenun dari empat desa sekecamatan Pringgasela. “sebenarnya kami ingin menghadirkan lebih dari 1.350 orang penenun, tapi karena keterbatasan dana penenun yang dihadirkan hanya dari empat desa dari 10 desa yang ada” tutur ketua panitia Eka Karisma Novandi.

Dijelaskan Eka, agenda awal pelaksanaan festival ini digelar untuk memproleh rekor muri yaitu dengan kategori penenun terbanyak dengan tema “Pringgasela menenun mencapai rekor muri”. Namun semua rencana tersebut pupus akibat terkendala keterbatasan dana sehingga tema acara kemudian diganti dengan pringgasela menenun dengan konsep warna dan irama tenun. “keterbatasan dana yang dimiliki panitia karena sama sekali tidak ada suport dari pemerintah Kabupaten maupun Provinsi, padahal jauh hari proposal dan berbagai upaya koordinasi telah dilakukan namun tetap tidak direspon dengan alasan tidak ada anggaran” tegasnya.

Lebih lanjut Eka mengatakan, tujuan digelarnya acara ini untuk mengangkat kembali budaya kerajinan kain tenun Pringgasela yang saat ini semaikin terkikis. Padahal dulunya semua warga Pringgasela bekerja sehari-hari sebagai tukang tenun atau nyesek dalah bahasa sasak. Namun saat ini, budaya tersebut perlahan mulai ditinggalkan masyarakat karena disebabkan pekerjaan menenun tidak terlalu menjanjikan. “saat ini sebagian besar masyarakt Peringgasela sudah tidak lagi menenun, karena disebabkan kecilnya penghasilan mereka” terangnya.

Sementara itu menanggapi tidak adanya support dari pemerintah, Wakil Bupati Lombok Timur Hairul Warisin mengatakan kedepan pemerintah berkomitmen menggarkan husus kegiatan budaya seperti ini, dan akan melibatkan langsung steak holder terkait yaitu dinas parawisata, prindustrian  dan perdagangan. “ini bukan salahnya dinas, tetapi ini salahnya pemerintah yang tidak memiliki wawasan untuk memajukan budaya sendiri, sehingga kedepan acara budaya seperti ini harus dianggarkan”, tegasnya.